Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2009

HUKUM MEMPERINGATI MAULID NABI SAW.

Maulid Nabi saw. adalah kelahiran nabi Muhammad, Rasulullah saw.. Beliau saw. dilahirkan di tengah keluarga bani Hasyim di Makkah. Mengenai tanggal kelahirannya, para ahli tarikh berbeda pendapat dalam masalah ini, dan tidak ada dari mereka yang mengetahui secara pasti, namun menurut buku “Sirah Nabawiyah”, karya Shafiyurrahman Mubarakfury -Juara I lomba penulisan sejarah Nabi yang diadakan oleh Rabithah Al-Alam Al-Islamy- Nabi Muhammad saw. dilahirkan pada hari senin pagi, tanggal 9 Rabi’ul Awal, permulaan tahun dari peristiwa gajah.

Bertepatan dengan itu, terjadi beberapa bukti pendukung kerasulan di antaranya adalah, runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra, padamnya api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi, dan runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah. Hal ini diriwayatkan oleh Baihaqi. Selain itu, Ibnu Sa’d meriwayatkan bahwa Ibu Rasulullah saw. berkata, “Setelah bayiku keluar, aku melihat ada cahaya yang keluar dari kemaluanku, menyinari istana-istana di syam.”

Setelah Aminah melahirkan, dia mengirim utusan kepada kakeknya, Abdul Muththalib, untuk menyampaikan berita gembira tentang kelahiran cucunya. Maka Abdul Muththalib datang dengan perasaan suka cita, lalu membawa beliau ke dalam ka’bah, seraya berdo’a kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya. Dia memilihkan nama Muhammad untuk beliau, sebuah nama yang belum pernah dikenal di kalangan Arab. Kemudian beliau dikhitan pada hari ke tujuh, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab.

Itulah sekelumit sejarah tentang kelahiran Nabi saw., yang kemudian momen penting tersebut diperingati oleh kebanyakan kaum muslimin sejak berlalunya tiga generasi, yaitu generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in.

Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), “Janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji (Isa) putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, ‘Abdullah wa rasuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya)’.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis yang lain Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah oleh kamu sekalian sikap berlebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kamu.”

Dan dari Ibnu Mas’ud r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Binasalah orang yang berlebih-lebihan dalam tindakannya.” (HR Muslim).

Hadis di atas menerangkan larangan Rasulullah saw. kepada umatnya untuk memujinya secara berlebih-lebihan. “Janganlah kamu sekalian memujiku dengan berlebih-lebihan.” Artinya adalah janganlah kamu sekalian memujiku dengan cara yang bathil, dan janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku. Makna kata ithra’ dalam hadis tersebut (laa tuthruni), adalah melampaui batas dalam memuji.

Kenyataannya, kebanyakan manusia sangat berlebih-lebihan dalam memuji dan mengagungkan orang yang menjadi panutan dan junjungannya, sehingga mereka meyakini bahwa junjungan mereka itu mampu melakukan sesuatu yang seharusnya hanya hak Allah. Jadi mereka menganggap junjungan mereka itu memiliki sifat ilahiyah dan rububiyah yang sebenarnya hanya milik Allah. Hal itu karena perilaku mereka yang berlebih-lebihan dalam memuji dan menyanjung panutan mereka.

Walaupun Rasulullah saw. sudah melarangnya, tapi kenyataan ini masih terjadi di kalangan sebagian orang yang mengaku sebagai umatnya. Kita dapati di sebagian syair yang di anggap sebagai salah satu shalawat, yang berbunyi, “Allahumma shalli shalatan kamilatan wa sallim salaman tamman ‘ala sayidina Muhammadin alladzi tanhalu bihil ‘uqadu, watanfariju bihil kurabu, wa tuqdha bihil hawaiju....” yang artinya, “Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad saw., yang karenaya ikatan belenggu terurai, dan karenanya malapetaka sirna, dan karenanya kebutuhan-kebutuhan terpenuhi….” Bukankah itu adalah pujian yang berlebihan, karena menyanjung Rasulullah saw. dengan hal-hal yang sebenarnya hanya kekuasaan Allah saja.

Itu adalah satu contoh tentang keadaan sebagian umat yang melampaui batas dalam memuji Nabinya.

Setelah itu, ada masalah yang tersisa, yaitu bagaimana dengan acara-acara perayaan dan beberapa perilaku yang dilakukan oleh kebanyakan orang untuk memperingati kelahiran Nabi saw.. Apakah hal tersebut termasuk perilaku yang berlebih-lebihan dan melampaui batas? Atau merupakan sesuatu hal yang baru yang diada-adakan oleh umat ini?

Tentang hal itu, marilah kita ikuti komentar Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ketika beliau ditanya mengenai hukum merayakan maulid Nabi saw..

Beliau berkata, “Pertama, malam kelahiran Nabi saw. tidak diketahui secara pasti, tetapi sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa hal itu terjadi pada malam kesembilan Rabi’ul awal, bukan pada malam kedua belas. Tetapi justru saat ini perayaan maulid dilaksanakan pada malam kedua belas, yang tidak ada dasarnya dalam tinjauan sejarah.

Kedua, dipandang dari sisi akidah, juga tidak ada dasarnya. Kalaulah itu syariat dari Allah, tentulah dilaksanakan oleh Nabi saw. atau disampaikan pada umat beliau. Dan kalaulah Rasulullah saw. mengerjakannya atau menyampaikan kepada umatnya, mestinya amalan itu terjaga, karena Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesunggunya Kami benar-benar akan menjaganya.” (Al-Hijr: 9).

Ketika ternyata hal itu tidak didapati, maka bisa diketahui bahwa hal itu bukanlah termasuk ajaran Islam. Dan jika bukan dari ajaran agama Allah, maka kita tidak boleh menjadikannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah dan tidak boleh menjadikannya sebagai amalan taqarrub kepada-Nya.

Allah telah menetapkan suatu jalan yang sudah ditentukan untuk bisa sampai kepada-Nya –itulah yang datang kepada Rasulullah saw.- maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan membuat jalan sendiri, yang akan menghantarkan kepada-Nya, padahal kita adalah seorang hamba. Ini berarti mengambil hak Allah, yaitu membuat syariat yang bukan dari-Nya, dan kita masukkan ke dalam ajaran Allah. Ini juga merupakan pendustaan terhadap firman Allah, “Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kecukupkan nikmat-Ku kepadamu….” (Al-Maidah: 3).

Maka kami katakan, bila perayaan ini termasuk bagian dari kesempurnaan dien, tentunya sudah ada sebelum Rasulullah saw. wafat. Bila tidak ada, berarti hal itu tidak mungkin menjadi bagian dari kesempurnaan dien, karena Allah berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kecukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Al-Maidah: 3).

Barang siapa yang menyatakan bahwa perayaan maulid adalah termasuk ajaran agama, maka ia telah membuat hal yang baru sepeninggal Rasulullah saw.. ucapannya mengandung kedustaan terhadap ayat yang mulia tersebut.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang merayakan maulid Nabi, ingin mengagungkan beliau, ingin menampakkan kecintaan dan besarnya harapan untuk mendapatkan kasih sayang beliau dari perayaan yang diadakan, dan dan ingin menghidupkan semangat kecintaan kepada Nabi saw.. Sebenarnya semua ini adalah termasuk ibadah. Mencintai Rasul adalah ibadah, bahkan iman seseorang tidak sempurnya sehingga ia lebih mencintai Rasul dari pada dirinya, anaknya, orang tuanya, dan semua manusia. Mengagungkan Rasulullah saw. juga termasuk ibadah. Haus akan kasih sayang Rasulullah saw. juga merupakan bagian dari dien. Oleh karena itu, seseorang menjadi cenderung kepada syariat beliau. Jika demikian, tujuan merayakan maulid nabi adalah untuk bertaqarrub kepada Allah, dan pengagungan terhadap Rasul-Nya. Ini adalah ibadah. Bila ini ibadah, maka tidak boleh membuat hal yang baru –yang bukan dari Allah- dan dimasukkan ke dalam agama-Nya selama-lamanya. Maka dari itu, jelaslah bahwa perayaan maulid Nabi saw. adalah sesuatu yang diada-adakan (bidah) dan haram hukumnya.

Selain itu, kita juga mendengar bahwa dalam perayaan ini terdapat kemungkaran-kemungkaran besar yang tidak diterima oleh syar’i, perasaan, ataupun akal. Mereka melantunkan nyanyian-nyanyian untuk maksud-maksud tertentu yang sangat berlebihan tentang Rasulullah saw.. Sehingga mereka menjadikan Rasulullah saw. lebih agung dari pada Allah. –kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut-. Kita juga mendengar bahwa sebagian orang, karena kebodohan mereka, merayakan maulid Nabi, apabila salah seorang membacakan kisah tentang kelahiran Nabi saw. dan jika sudah sampai pada lafadz “Nabi dilahirkan”, mereka berdiri dengan serempak. Mereka berkata, “Rasulullah saw. telah datang, maka kami pun berdiri untuk mengagungkannya.” Ini adalah kebodohan. Dan ini bukanlah adab, karena beliau membenci bila disambut dengan berdiri. Para sahabat adalah orang yang paling mencintai dan mengagungkan beliau, tetapi mereka tidak berdiri bila menyambut beliau, karena mereka tahu bahwa beliau membenci hal itu. Saat beliau masih hidup saja tidak boleh apalagi setelah beliau tidak ada.

Dalam bidah ini –bidah maulid Nabi yang terjadi setelah berlalunya tiga generasi mulia, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in- terdapat pula kemungkaran yang dilakukan oleh orang-orang yang merayakannya, yang bukan dari pokok ajaran dien. Terlebih lagi terjadinya ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan. Dan masih banyak kemungkaran-kemungkaran yang lain. (Majmu’ Fatawa, Syeikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin).

Kiranya apa yang dikatakan oleh Syaikh Utsaimin di atas cukup menjelaskan kepada kita tentang hukum merayakan maulid Nabi saw..

Meskipun mengetahui sejarah dan mengenal Nabi saw. adalah wajib bagi kita, bangga –karena beliau adalah rahmat bagi seluruh alam- dan selalu mengenang beliau adalah tugas kita, namun tidak berarti kemudian kita diperbolehkan untuk memuji dan menyanjungnya secara berlebih-lebihan, dan tidak berarti kita boleh mengenangnya dengan melakukan perilaku dan amalan yang justru hal itu tidak pernah dilakukannya dan tidak dianjurkan olehnya.

Seperti yang dilakukan oleh orang-orang sekarang, mereka merayakan maulid Nabi, yang mereka sebut dengan peringatan maulid Nabi, dengan melakukan berbagai amalan dan perbuatan yang justru hal itu bernilai berlebih-lebihan dalam memuji Nabi, atau bahkan merupakan hal baru yang mereka ada-adakan. Lebih dari itu, sebagian perilaku mereka itu ada yang termasuk dalam kategori kesyirikan, yaitu apabila mereka memuji Rasulullah saw. dengan sanjungan-sanjungan dan pujian-pujian yang berisi bahwa Rasulullah saw. mampu melakukan hal-hal yang seharusnya hanya hak dan kekuasaan Allah.

Walaupun tujuan merayakannya adalah ibadah, namun karena tidak ada tuntunannya, maka perbuatan itu sia-sia belaka, dan justru berubah menjadi dosa dan pelanggaran. Karena ibadah itu harus dibangun dengan dalil yang menunjukkannya.

Mengapa memperingati dan mengenang Nabi saw. harus dilakukan sekali dalam setahun, padahal sebagai muslim harus selalu mengenang Nabi dan meneladaninya dalam segala aspek kehidupannya. Bahkan minimal seorang muslim harus menyebut nama Nabi Muhammad saw. lima kali dalam sehari semalam, yaitu pada syahadat dalam salat wajib.

Mengagungkan dan mencintai Nabi adalah sesuatu yang terpuji dan dianjurkan dalam Islam, tapi dalam pelaksanaannya, harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw.. Rasulullah saw. melarang umatnya melakukan sesuatu (ibadah) yang tidak pernah dicontohkan olehnya dalam segala hal.

Bagaiamana mungkin, orang yang mengaku mencintai dan menyanjung Rasulullah saw. , akan tetapi justru melakukan sesuatu yang sangat dibenci olehnya. (Zen bin Choodry).

Baca Selengkapnya..

Jumat, 13 November 2009

VALENTINE’S DAY DALAM PANDANGAN ISLAM

Dewasa ini masyarakat kita tengah menghadapi invasi kultural berskala global dan dampaknya amat dahsyat. Invasi tersebut dapat berupa invasi pemikiran di bidang ideologi, budaya, politik maupun sosial ekonomi. Mode, west lifestyle (gaya hidup barat), free sex, pornografi dan lain-lain yang semuanya adalah sejumlah “budaya import” yang amat masih dipaksakan di masyarakat muslim. Salah satu invasi kultural yang kini marak dimasyarakatkan adalah budaya memperingati Valentine’s day. Biasanya Valentine’s day dirayakan setiap tanggal 14 Februari. Tulisan ini mencoba memaparkan ikhwal sejarah Valentine’s day dan bagaimanakah seharusnya seorang muslim menyikapinya.


Ada suatu budaya baru yang kini nge-trend di masyarakat kita. Yaitu budaya memperingati hari Valentine yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari. Valentine’s day sering disebut sebagai hari kasih sayang. Biasanya ditandai dengan pemberian kado bunga, coklat, gula-gula, snack dan lainnya diiringi dengan ucapan “Happy Valentine’s day.” Di sebagian kalangan remaja, budaya ini marak dilakukan baik kepada teman maupun pacar. Mereka memanfaatkan hari Valentine untuk mengungkapkan kasih sayang mereka dan pasangan mereka yang berakhir dengan perbuatan mesum yang sangat dilarang agama. Hotel-hotel dan klub-klub malam juga menyelenggarakan acara-acara yang bertema valentine’s day, dengan beragam paket hura-hura dan pesta pora. Tentu ini tidak lepas dari keuntungan bisnis yang bakal diraupnya, di samping memasyarakatkan budaya Valentine’s day.

Sayangnya, akhir-akhir ini Valentine’s day juga dirayakan oleh remaja Muslim, meski budaya tersebut sebenarnya asing dan tidak ada sandarannya dalam sejarah Islam.

Secara historis, perayaan Valentine’s day tak lepas dari sosok seorang pendeta Nashrani bernama Santo Valentine. Pendeta Santo Valentine adalah seorang pendeta Romawi yang hidup pada abad ketiga. Pada masa itu, Imperium Roma diperintah oleh seorang kaisar bernama Claudius II. Kaisar Romawi ini berpendapat bahwa pria yang masih lajang lebih pantas menjadi tentara negara dari pada menghabiskan masa mudanya dengan istri dan keluarganya. Selanjutnya ia mengeluarkan peraturan kerajaan tentang larangan menikah muda bagi warganya. Peraturan yang tak manusiawi ini mendapatkan tantangan keras dari berbagai elemen masyarakat. Salah satu yang amat gigih menentang maklumat ini adalah Pendeta Valentine. Ia sangat tidak setuju dengan peraturan itu karena peraturan tersebut tidak sesuai dengan fitrah manusia. Disisi lain, pendeta Valentine menikahkan pasangan muda-mudi secara diam-diam. Ia telah banyak menikahkan pasangan muda-mudi tanpa sepengetahuan kerajaan. Lambat laun, perbuatan ‘illegal’ Pendeta Valentine diketahui oleh Kaisar.

Akhirnya, Kaisar memerintahkan untuk menangkap Pendeta Valentine dan memberikan hukuman mati kepada Pendeta Valentine karena dianggap melanggar peraturan kerajaan. Selanjutnya Pendeta Valentine dipenjara sambil menunggu masa eksekusi hukuman mati.

Selama masa tahanan, Pendeta Valentine senantiasa bersikap gembira, riang dan ketika itu banyak remaja yang mengunjunginya. Para pemuda itu sangat mengagumi Pendeta Valentine. Mereka membawakan bunga untuk Pendeta Valentine sebagai tanda cinta mereka. Salah satu remaja putri yang sering mengunjunginya adalah putri sipir. Akhirnya mereka menjadi sahabat sejati dalam penjara. Mereka mengobrol berlama-lama dalam penjara dan mengeluarkan curahan hati mereka yang paling dalam. Pada gadis yang biasa mengunjunginya, dan sebagai ucapan terima kasih atas persahabatan dan kesetiaannya selama ini, maka Pendeta Valentine menandatangani surat tersebut dengan ungkapan “Love from Your Valentine” . Ia wafat pada tanggal 14 Februari tahun 269 Masehi. Hari kematian Pendeta Valentine inilah yang kemudian diperingati setiap tahun, untuk mengingatkan makna pentingnya cinta, kesetiaan dan persahabatan. Inilah ikhwal sejarah hari kasih sayang atau Valentine’s day.

Terkait dengan invasi kultural, baik berupa Valentine’s day, west lifestyle atau yang lainnya, setidaknya ada tiga sikap perilaku yang berlangsung di masyarakat Muslim:
Pertama, menerima segala apa yang berasal dari barat, baik atau buruk, karena ini merupakan simbol kemajuan masyarakat modern. Kedua, menolak segala apa yang berasal dari barat, baik atau buruk, karena ini merupakan simbol kekacau-balauan masyarakat Islam di zaman modern ini. Ketiga, menyeleksi segala apa yang berasal dari barat karena ini merupakan interaksi peradaban yang tak mungkin dielakkan dalam pergaulan masyarakat internasional di zaman modern ini. Peradaban yang baik dari barat yang sesuai dengan nilai-nilai universal Islam, seperti kemajuan Iptek, riset, pengembangan sains dan lain-lain, mereka kembangkan di masyarakat Islam sesuai dengan norma-norma, nilai dan etika yang diajarkan Islam. Adapun peradaban barat yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai universal Islam, seperti free sex, pergaulan bebas, dansa-dansi laki-laki dan perempuan, minuman beralkohol, prostitusi, mode pakaian ketat dan lain-lain, mereka tinggalkan. Sebab inilah sumber penyakit sosial di masyarakat Muslim. Ketiga sikap ii mencerminkan perilaku peradaban yang beragam di masyarakat Muslim.
Sikap pertama mencerminkan perilaku Muslim yang kalah dalam peperangan peradaban ini, sehingga ia bersikap membeo terhadap segala yang dititahkan oleh desainer-desainer peradaban barat. Akibatnya umat Islam akan terkagum-kagum dengan peradaban barat dan pada akhirnya menganggap kuno budaya umat Islam dan meninggalkan warisan Islam yang agung ini.

Sikap kedua mencerminkan muslim yang tidak siap menghadapi segala perubahan budaya yang tak mungkin dielakkan. Akibtnya ia terisolasi di tengah pergaulan internasional dan ia tetap berada dalam kehidupan ‘tradisional’ di tengah kemodernan zaman.

Sikap ketiga mencerminkan muslim yang siap berinteraksi dengan masyarakat internasional tanpa kehilangan jati dirinya sebagai muslim. Inilah sikap muslim yang siap mengadakan ‘hiwar hadhari’ (dialog peradaban). Untuk pengembangan diri yang baik, ia siap berubah seiring dengan perubahan zaman, namun ia juga menolak tegas hal-hal yang memang dilarang dalam agama. Dengan kata lain ia siap membela nilai-nilai Islam di tengah-tengah peradaban global.

Terkait dengan Valentine’s day, kita harus menyadari betul bahwa sejarah Valentine tak lepas dari sejarah seorang Santo. Dalam kepercayaan Nashrani, Santo adalah seorang yang dianggap suci di kalangan agama Katholik. Jadi secara historis, ini sangat erat kaitannya dengan kegiatan keagamaan yang bukan dari Islam. Dalam hal ini, Al-Qur’an dan As-Sunnah telah memberikan rambu-rambunya. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (QS.Ali Imran 3 : 149)

Dalam hal ini, orang-orang non Muslim berusaha menghubungkan hari-hari besar mereka dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan menjadikannya sebagai harapan baru yang dapat memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Rasulullaah SAW juga telah melarang umat Islam mengikuti perayaan hari besar yang dianut agama lain. Selain aspek historis yang mengharuskan umat Islam tidak boleh latah mengikuti budaya Valentine’s day, aspek lain yang tidak kalah penting adalah prosesi Valentine’s day yang berseberangan dengan nilai-nilai dan hukum-hukum Islam. Seperti ungkapan kasih sayang yang bukan kepada muhrimnya, dansa-dansi, pencampuran laki-laki dan perempuan tanpa norma-norma agama, aktivitas-aktivitas dalam Valentine’s day yang mengarah pada perbuatan mesum, misalnya berciuman, berpelukan dan lain-lain.

Dengan demikian jelaslah bahwa dalam sudut pandang Islam, Valentine’s day, selain tidak punya sandaran tradisi Islami, juga banyak acara Valentine’s day yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Dengan kata lain, dalam pandangan Islam, Valentine’s day adalah budaya non-Islam yang wajib dijauhi oleh remaja Islam.

Jadi seperti telah dijelaskan, bahwa Valentine’s day merupakan budaya non-Islam yang kini dikembangkan secara masif di masyarakat Islam. Karena itu umat Islam hendaknya mewaspadai budaya jahiliyyah ini. Sebab dengan meluasnya budaya Valentine’s day yang sebenarnya merupakan peradaban ‘import’ di masyarakat kita, dikhawatirkan akan dapat merusak moral generasi Islam hingga terjadi dekadensi moral di masyarakat Muslim. Untuk itu para orang tua Muslim dan seluruh elemen masyarakat hendaknya terus berusaha membendung budaya jahiliyah ini agar tidak menjalar di masyarakat Muslim. Sebagai Muslim yang baik kita sekali lagi harus mampu memilah dan memilih budaya-budaya asing yang secara tak terelakkan masuk di masyarakat kita. Valentine’s day merupakan budaya asing yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai universal Islam dan dapat merusak moral dan akhlaq generasi Islam kini maupun yang akan datang.

Baca Selengkapnya..

Sabtu, 07 November 2009

ISLAM KAFFAH

Seorang wanita berkerudung bergegas mendekati angkot yang sedang ngetem. Ketika naik dia mendahulukan kaki kanan seraya mengucapkan Bismillahir rahmanir rahim. Kemudian angkot pun berangkat. Setengah jam kemudian, wanita itu turun dengan menyerahkan uang Rp.300,00 kepada kenek dan bergegas pergi. Sang kenek berteriak meminta tambahan ongkos, tetapi wanita itu semakin mempercepat jalannya. Dengan kesal sang kenek mengumpat, “Naik angkot pakai kerudung dan membaca bismillah, tetapi mbayar hanya tiga ratus, mending tidak pakai kerudung dan tidak pakai bismillah, tetapi mbayar lima ratus!”

Islam memang merupakan agama multi-dimensiona;. Ia mengandung ajaran tentang akidah, ibadah, akhlak, dan hubungan sesame makhluk. Keempat-empatnya mesti dipegang secara serempak tanpa boleh dikapling-kapling, dan totalitas dari keempat unsure itulah yang akan membentuk pribadi seorang muslim. Artinya seorang Muslim memang diperintah untuk beribadah (dalam arti sempit) dengan sebaik-baiknya, seraya dengan itu mereka dituntut berakhlak mulia dan menjaga hubungan sosialnya. Sebaik hubungan dirinya dengan Tuhan, maka sebaik itu pulalah hendaknya dia menjaga hubungan dirinya dengan sesama manusia.

Karena itu, pengakuan keislaman seseorang tidak cukup hanya dalam bentuk syahadat lisan atau keyakinan dalam hati. Ia harus termanifestasikan pula dalam bentuk amal perbuatan sehari-hari dan dari waktu ke waktu. Setiap unit perbuatan yang dilakukan oleh seorang Muslim, hendaknya menampakkan identitas keislaman yang total dan integral seperti itu.

Karena itu, Islam mengajarkan tata cara bertindak dalam setiap unit perbuatan, dari masuk ke kamar kecil hingga bergaul dengan orang lain. Begitu seseorang hendak makan, maka dia diperintahkan untuk membaca basmalah dan berdo’a, lalu menggunakan tangan kanannya. Yang pertama menunjukkan unsure keimanan, sedangkan yang kedua merupakan unsure akhlak. Dengan begitu, terdapat keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia. Di situ tidak ada skala prioritas, dalam arti mana yang harus didahulukan: hubungan dengan Allah atau hubungan dengan manusia.

Namun di masyarakat kita kadang-kadang masih terdapat kesan bahwa hubungan dengan Tuhan jauh lebih penting ketimbang hubungan dengan manusia, dosa kepada Tuhan lebih besar hukumannya ketimbang dosa kepada manusia. Akibatnya orang sering memberi tekanan sangat tinggi terhadap kewajiban shalat tetapi mengabaikan kejujuran, menganggap dosa meninggalkan puasa Ramadhan lebih besar ketimbang korupsi. Kita pun masih sering mendengar bahwa kuliah atau rapat harus dihentikan ketika shalat Dhuhur tiba, tetapi begitu ujian tiba, banyak siswa maupun mahasiswa nyontek di sana-sini.

Manusia adalah makhluk yang mempunyai fungsi ganda. Dalam hubungannya dengan Allah dia adalah ‘abid, yakni hamba yang harus tunduk dan patuh kepada Tuhan, dan dalam hubungannya dengan sesama makhluknya dia adalah Khalifah Allah. Fungsi ‘abid harus dilaksanakan serentak dengan fungsi kekhalifahan, tanpa boleh ada yang harus didahulukan dan dibelakangkan. Baca Selengkapnya..

Rabu, 04 November 2009

Memaknai Syukur

Setiap kita memperoleh nikmat dari Allah SWT. Kita diwajibkan bersyukur kepada-Nya. Secara tepat syukur didefinisikan sebagai mempergunakan nikmat Allah di jalan yang dikehendaki-Nya.

Akan tetapi, manifestasi bersyukur dalam bentuk di atas sering kali bergeser menjadi bentuk lain, ketika nikmat dihubungkan dengan satu ayat dalam Surah Adh-Dhuha. Ayat tersebut berbunyi, Wa amma bi ni’mati Rabbika fahaddits yang berarti, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaknya engkau menyebut-nyebutnya”.

Dengan pemberian arti seperti itu, ayat ini sering kali dipahami sebagai perintah untuk menyebut-nyebut dan membicarakan nikmat yang kita terima dari Allah kepada orang lain. Akibatnya, ketika seseorang meraih keuntungan dalam bisnis, memperoleh kenaikan pangkat, anaknya jadi insinyur, dan sejenisnya, dia lalu mengundang tetangga, kawan dan teman sejawat untuk “bersyukur” dengan acara makan-makan.

Padahal fahaddits (dengan dua dal pada ayat di atas) memiliki makna yang lebih mendalam dari sekadar “membicarakan”. Ia lebih tepat jika diartikan “membuat(-nya) berbicara”. Artinya, ketika seseorang menerima nikmat dari Allah, dia harus menjadikan nikmat tersebut berbicara.

Nikmat dan anugerah Allah kepada manusia, sungguh tak terbilang banyaknya. Seluruh anggota tubuh kita, dari ujung rambut hingga ujung jari kaki, sejak otak hingga hati, adalah nikmat Allah yang tak terhingga nilainya. Akan tetapi karena sejak lahir semuanya itu sudah kita “miliki”, maka kita cenderung untuk tidak menyebutnya sebagai nikmat dan anugerah. Yang kita sebut sebagai nikmat, biasanya, adalah pemberian-pemberian Allah yang incidental tadi: naik pangkat, dapat keuntungan dalam bisnis, lulus perguruan tinggi.

Terlepas dari itu semua, yang jelas seluruh nikmat tersebut harus kita buat “berbicara” kepada sesama manusia. Makanya nikmat tersebut harus betul-betul membawa manfaat bagi sesama, dan tidak sekadar bagi diri kita sendiri. Jika hari ini kita memiliki tangan, maka tangan kita mesti bermanfaat bagi umat manusia. Jika kita merasa bahwa Tuhan telah memberi anugerah otak kepada kita, maka otak kita harus memberi manfaat dan berbicara apa yang dikerjakannya bagi orang lain. Dan jika saat ini kita memperoleh rezeki cukup banyak dari Allah, maka rezeki itu pun harus dapat berbicara dalam bentuk amal-amal bagi kepentingan diri dan kepentingan sesama.

Sesudah itu, seluruh nikmat tersebut hendaknya dapat pula berbicara di hadapan Tuhan di akhirat kelak, dalam bentuk laporan yang padat dengan amal. Dengan begitu, maka bersyukur atas nikmat Allah berarti kehadiran. Yakni, kehadiran nikmat yang kita peroleh, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan. Karenanya, jika usia kita merupakan anugerah dan nikmat Allah, maka usia itu pun mesti hadir di hadapan manusia dan di hadapan Allah dengan amal-amalannya.

Maka dari itu agar nikmat tersebut tidak mejadi sia-sia. Hendaknya tidak ada di antara kita yang hidup selama 50 tahun di dunia ini, tanpa ada satu pun dari waktu kita yang tidak berbicara kepada umat manusia dalam bentuk kebaikan-kebaikan. Dengan begitu, bersyukur juga punya dimensi kesejarahan dalam bentuk kehadiran kita di dunia ini. Baca Selengkapnya..

Selasa, 03 November 2009

Tiada Kemuliaan Tanpa Islam

Umar bin Khaththab semoga Allah meridloinya mengatakan: “Kita adalah umat yang telah Allah SWT. berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun cara kita mencari kemuliaan tanpa Islam, maka Allah akan tetap menjadikannya sebagai kehinaan.”

Kapan Umar mengatakan ungkapan ini ? Kapan Umar menyusun perkataan ini?

Umar mengatakan ini pada moment yang agung dan pada satu periode yang mulia dalam Islam. Beliau mengatakan ini ketika beliau berangkat untuk membuka Baitul Maqdis, untuk mengambil kunci-kunci Baitul maqdis yang telah kita abaikan karena kita mengabaikan Islam.
Umar berangkat ke sana untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis. Kemudian orang-orang Nashara mendengar kedatangan Umar yang namanya telah menguncang dunia, yang jika nama Umar disebut di majlis Kisra dan Kaisar, maka kedua raja ini hampir pingsan mendengarnya, karena takut.
Umar yang tidur di pelepah kurma, tetapi hati para taghut yang berada di atas singgasana ketakutan. Umar yang hanya makan gandum, tetapi para bangsawan yang memiliki emas dan perak gemetar jika melihatnya. Umar yang jika berjalan di suatu jalan, maka syetan akan memilih jalan lain. Umar yang sudah dikenal dikalangan muslimin Melayu, India, Iraq, Sudan, Andalus, dan akan dikenal dunia.
Ketika orang-orang Nashara mendengar Umar akan datang untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis, mereka keluar dengan jumlah yang sangat besar. Para wanita keluar di atap-atap rumah, anak-anak keluar di berbagai jalan dan gang.
Sedangkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh tiga panglima, mereka kaluar dalam konvoi pasukan yang belum pernah didengar dunia.
Bagaimana pengawal yang mengiringi Umar yang akan mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis?
Tidak ada iring-iringan yang mengawal ! Orang-orang mengira beliau akan datang dengan para pembesar shahabat, para pembesar Anshar dan Muhajirin dari para ulama dan orang-orang shalehnya, tetapi beliau datang hanya dengan mengendarai satu unta dan ditemani seorang pembantunya. Kadang Umar yang menuntun unta dan pembantunya naik dan kadang Umar yang naik unta dan pembantunya yang menuntun !
Ketika mendekati Baitul Maqdis, para pejabat muslimin bertanya-tanya:
“Siapa itu ? Mungkin salah saeorang tentara yang memberi tahu kedatangan Amirul Mukminin

Ketika pasukan itu mendekat, ternyata orang tersebut adalah Umar bin Khaththab ! Ketika beliau sampai di Baitul Maqdis, tiba giliran beliau menuntun unta dan pembantunya yang berada di atas unta.
Amr bin Ash mengatakan: “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang menanti kehadiran anda, penghuni dunia keluar untuk menyambut kehadiran anda dan orang-orang mendengar tentang anda tetapi anda datang dengan penampilan seperti ini ?”
Kemudian Umar mengatakan perkataannya yang sangat terkenal, yang tetap diingat sepanjang masa: “Kita adalah umat yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta\'aalaa berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun juga jika kita mencari kejayaan dengan yang lain, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.”

Kita membangun peradaban kita dari nol dengan satu modal; Laa ilaaha illallaah.
Pasukan Umar bin Khaththab keluar dengan 30.000 orang yang bertauhid.
Setiap orang yang bertauhid sama dengan 3 juta tentara dunia sekarang. Mereka keluar untuk berperang melawan Persia, berperang untuk melawan Kisra yang kafir dan sesat. Ketika mereka tiba di Qadisiyah, Kisra ingin melakukan perundingan dengan Umar karena takut mati. Maka ia mengutus Hurmuzan -salah seorang mentrinya- untuk mendatangi Madinah Nabawiyah kota Rasulullah shallallaahu \'alaihi wa sallam untuk duduk bersama Umar Al Faruq di meja perundingan.

Utusan tersebut keluar dengan rombongan yang besar untuk menemui Umar,dengan hati yang hampir robek karena takut…Mengapa? Karena dia ragu-ragu. Bagaimana ia akan bicara dengan Umar bin Khaththab ? Apakah ia akan berbicara secara langsung atau melalui perantara ? Apakah ia akan duduk bersama di atas tanah ? Apakah ia dapat melihat Umar secara langsung tanpa alat dan pengeras suara ?

Maka ia memakai perhiasan, sutra, emas dan perak. Ia menembus jalan dari Iraq menuju Madinah.

Ketika ia masuk Madinah, ia bertanya: “Dimana istana Khalifah Umar?”
Para shahabat mengatakan: “Umar tidak punya istana.”

Ia bertanya: “Bagaimana ia memimpin kalian ?”
Mereka berkata: “Beliau memimpin kami di atas tanah.”

Ia bertanya: “Di mana rumahnya ? Apakah rumahnya memiliki keistimewaan ?”
Mereka menjawab: “ Rumahnya seperti rumah kita.”

Ia berkata: “Tolong tunjukkan pada saya rumahnya.”
Mereka berangkat dan berjalan di gang-gang kota Madinah yang sempit, sampai mereka sampai di sebuah rumah yang kecil miskin yang hanya dibangun dari tanah biasa.
Ia bertanya: “Apakah ini rumahnya ?”
Mereka mengatakan: “Ya”
Ia bertambah takut dan gemetar, ia bertanya: “Apakah ini rumahnya ?”
Mereka mengatakan: “Kita akan tanya keluarganya”

Kemudian mereka mengetuk pintu rumah. Putranya keluar, mereka bertanya: “Apakah Amirul Mukminin ada di rumah ?”
Beliau menjawab: “Beliau sedang tidak di rumah, silahkan anda cari di masjid “

Kantor, istana dan tempat duduknya di masjid.
Utusan ini segera berangkat ke masjid. Anak-anak berjalan dibelakang utusan Beberapa wanita melihat dari atap rumah dan dari balik pintu, untuk melihat orang yang datang dengan sutra dan emas yang bersinar karena pantulan sinar matahari.
Utusan tersebut mencari Umar. Mereka pergi dan memasuki masjid, mengamati orang-orang yang tidur -karena beliau tidur di masjid- maka mereka tidak menemukan. Mereka mengatakan: “Kita cari di tempat lain.
Maka mereka mencari lagi.

Mereka mendatangi sebuah pohon di luar kota Madinah, ternyata beliau berada di situ. Beliau tertidur di di bawah pohon.
Utusan Persia ini tercengang dan semakin takut.

Mereka membangunkan Umar. Ketika beliau bangun, beliau bertanya: “Siapa ini ?”

Mereka mengatakan: “Ini adalah Hurmuzan dan rombongannya, datang untuk berunding dengan anda, wahai Amirul Mukminin.”

Orang Persia tersebut berkata: “Anda telah berhukum dengan adil sehingga anda merasa aman dan bisa tidur.”

Jadi kita adalah umat yang telah Allah berikan kejayaan dengan Islam, maka jika kita mencari kejayaan dengan selain Islam, Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita mencari kejayaan dengan pakaian dan penampilan, bukan dengan agama, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita merasa bangga dengan rumah dan istana, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita merasa bangga dengan berbagai kendaraan, kakayaan dam makanan dan merasa bangga dengan Islam maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita. Karena kita adalah umat yang telah Allah berikan kejayaan dengan Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Islam Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Mengapa kita tidak merasa bangga, wahai para pemuda dan orang tua, mengapa kita tidak merasa bangga dengan Islam ?
Ya… ada ditengah-tengah kita, orang yang tidak ingin masuk lebih dalam pada agama. Dia ingin Islam yang biasa-biasa saja, shalat dan puasa saja.

Sedankan dakwah dan istiqamah adalah sesuatu yang dia tidak inginkan. Mengapa ?

Karena zionisme internasional telah menamakan para da\'i dengan istilah fundamentalis dan berbagai istilah menakutkan lainnya…maka orang-orang yang kurang wawasan, sedikit pengetahuan dan lemah mental (imannya) merasa berat jika dikatakan seperti itu.
Allah Subhaanahu Wa Ta\'aalaa membagi manusia menjadi dua bagian, Allah Subhaanahu Wa Ta\'aalaa berfirman, yang artinya :

“Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ? Mengapa kamu (berbuat demikian) bagaimanakah kamu mengambil keputusan” (QS Al Qalam: 35-36)

Pilihannya hanya satu dari dua, muslim atau mujrim (orang yang berbuat dosa)… orang yang baik atau jelek… sesat atau dapat petunjuk… shaleh atau merusak… taat atau ma\'siyat. Tidak ada pilihan ketiga.

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat ?” (QS Shaad ayat 28)
Saran kita bagi setiap orang biasa yang ingin hidup biasa dalam Islam agar bergabung dengan para wali Allah, orang-orang pilihan,orang-orang yang istiqamah, karena agamawan dalam Islam tidak sama dengan agamawan dalam Nashrani.. tidak..pilihan kita hanya satu,menjadi orang yang istiqamah sukses bahagian atau sesat bodoh dan gagal dalam hidup.
Dalam agama kita hanya ada satu pilihan, menjadi orang yang baik , bertaqwa, wara\' dan menghadapkan diri kepada Allah atau menjadi orang yang celaka, lalai, sesat yang akan dikembalikan ke neraka yang menyala-nyala.

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

“Demikianlah Kami (Allah) jadikan kalian umat wasath (pertengahan).
Betapa indah ungkapan wasath (pertengahan). Apa yang dimaksud dengan wasath ? Banyak dari para ahli tafsir yang mengatakan bahwa maksudnya adalah umat pilihan. Sebagian yang lain mengatakan maksudnya:
pertengahan dalam segala sesuatu.” (QS Al Baqarah 143)

Kedua makna ini benar. Alhamdulillah kita ini umat Islam memiliki aqidah pertengahan. Kita tidak hidup tanpa aqidah seperti orang-orang yang tidak punya pegangan. Kita tidak hidup dengan hati kosong, jiwa kosong, tetapi kita punya aqidah. Namun kita juga bukan yang berlebihan dalam beribadah sampai-sampai menyembah segala sesuatu,menyembah batu, pohon, bintang, bulan, sapi, harta, pakaian dll, tetapi kita beribadah kepada Dzat yang memang berhak dijadikan tujuan ibadah.
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu”(QS Muhammad 19) Baca Selengkapnya..

Link Sahabat

Related Posts with Thumbnails